Minggu, 30 Agustus 2009

MADRASAH DINIYAH AL ITTIHAD

1. Sejarah perkembangan madarasah Diniyah al-Ittihad
Terletak di sebelah utara kurang lebih 31 kilimeter dari kota Kediri, tepatnya di dusun Prayungan desa Kuwik kec Kunjang, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang bernama Madrasah Diniyah AL-Ittihad, lembaga ini adalah salah satu lembaga yang masih tetap eksis dalam membina generasi muda, khususnya dalam bidang pendidikan agama Islam.
Keberadaan Madrasah Diniyah ini bermula pada tahun 1998 M, tahun inilah yang menjadi tonggak dasar berdirinya Madrasah Diniyah ini, berawal dari sebuah pengajian Al-quran dengan model sorogan yang bertempat di serambi masjid Baiturrahim Prayungann dibawah naungan TPQ (Tempat Pembelajaran Al-quran) yang dimotori oleh 6 orang pemuda desa yaitu mastur, Nur Amali, Agus setiyono, Ritiono sumantri, M Rifa”i dan Supardi. Berbekal keihlasan dan rasa tanggung jawab terhadap generasi muda masyarakat Islam, mereka berjuang melestarikan pengajian Al-quran model sorogan ini.
Setapak demi setapak, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun seiring dengan perubahan zaman, santri yang mengikuti pengajian al-quran model sorogan ini sudah banyak yang menyelasaikan pembelajarannya (khatam) dan jumlah santri baru juga semakin banyak, menyikapi hal ini akhirnya tercetus ide untuk memberikan materi tambahan bagi siswa yang sudah khatam Al-quran yaitu materi kitab Fasholatan serta model pembelajaran juga sudah diatur menurut tingkat materi dan usia (klasikal).
Seiring dengan perkembangan pengajian ini, sedikit demi sedikit membuat dewan Guru, takmir masjid Baiturrahim dan masyarakat sekitar mulai terpikat dan tertarik untuk mengelola pendidikan ini menjadi lebih baik dan lebih optimal, akhirnya pengajian yang pada mulanya berada dibawah naungan TPQ, pada tahun 2003 atas inisiatif takmir masjid, masyarakat dan dewan guru dibentuklah suatu lembaga pendidikan yang bernama “Madrasah Diniyah Al-Ittihad”.
Setelah lembaga baru ini terbentuk, otomatis kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan model sorogan berubah menjadi klasikal, serta materi yang diajarkan juga lebih benyak dan lebih bervariasi, tetapi tetap dalam koridor keagamaan.
Pada awalnya para santri dibagi menjadi lima kelas yang berbeda, yaitu kelas satu, kelas dua, kelas empat, dan kelas lima ibtida”iyah, pembagian ini didasarkan pada penguasaan tentang baca tulis Al-quran dan huruf arab, sejalan dengan pembagian kelas ini, muncul masalah baru yang ditimbulkan yaitu masalah tempat belajar, tetapi hal ini dapat teratasi karena ada inisiatif dari H. Moh Sjahid Sag beliau adalah ketua yayasan SMP GUPPI Kunjang. Beliau menawarkan untuk memakai kelas yang lokasi gedungnya bertepatan berada disebelah masjid Baiturrahim Prayungan, akhirnya kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan sampai dengan saat ini.
bila ditinjau dari awal mula proses berdirinya Madrasah Diniyah Al-Ittihad Prayungann Kuwik Kunjang telah melalui beberapa tahap, yaitu :
1. Tahap pertama
yaitu tahap pendirian yang berlangsug antara tahun 1998 sampai dengan tahun 2000,
2. Tahap kedua
Merupakan Tahap pembenahan, berlansung antara tahun 200 sampai dengan 2003.
3. Tahap ketiga
Merupakan tahap survival, yaitu yang berlansung antara tahun 2003 sampai dengan tahun 2006.
4. Tahap keempat.
Merupakan tahap pengembangan dan penyempurnaan, tahap ini berlansung mulai dari tahun 2006 sampai dengan sekarang.
2. Visi dan Misi Madrasah Diniyah Al Ittihad
a. visi
Unggul dalam mutu, terdepan dalam prestasi, dan berpijak pada budi pekerti.

b. Misi
1). Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama Islam dengan budaya Islami.
2). Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan sesuai dengan kurikulum.
3). Mendorong dan membantu setiap siswa untuk menghayati dirinya, sehingga dapat berkembang baik dan maksimal.
4). Mendorong terbentuknya jiwa yang Islami sehingga terbentuk suatu masyarakat yang berbudaya Islam.

Kamis, 16 April 2009

PENDIDIKAN

A.PENDIDIKAN.
Pendiidkan adalah bimbingan atau pimpinan secara secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju kepribadian yang utama, sedangkanbimbingan itu sendiri merupakan suatu proses, dengan kata lain siterdidik mengalami proses yang berjalan bersam-sama kearah kedewasaan jasmaniah dan rohaniah, kata pendidikan dalam bahasa inggris “ education “, dalam bahasa arb disebut “tarbiyah”, berasal dari kata “rabba – yurabbi - tarbiyah” , yang berarti tumbuh dan berkembang.
Sedangkan Soeganda poerbakawatja (Zuhairini, 2004 : 120) mendefinisikan kata-kata pendidikan dalam arti luas sebagai :” semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta ketrampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkan agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah”.
Pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan hidup dan kehidupan manusia, dalam hal ini Dewey (Zuhairini, 2004 : 120) berpendapat bahawa “Pendidikan sebagai salah satu kebutuhan hidup, salah satu fungsi sosial, sebagai bimbingan, sebagai sarana pertumbuhan yang mempersiapkan dan membukakan, serta membentuk disiplin hidup, lewat transmisi baik dalam bentuk informal, maupun non formal”.
Dengan demikian, pendidikan menyandang misi keseluruhan aspek kebutuhan hidup dan berproses sejalan dengan dinamikanya hidup serta perubahan-perubahan yang terjadi. Sebagai akibat logisnya maka pendidikan senantiasa mengandung pemikiran dan kajian, baik secara konseptual maupun operasionalnya, sehingga diperoleh relevansi dan kemampuan menjawab tantangan serta memecahkan masalah-masalah yang dihadapi umat manusia.
Pendidikan adalah juga merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi demi untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal kehidupannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan sengaja dari orang dewasa dengan pengaruhnya untuk membawa Sianak didik menuju ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu memikul tanggung jaeab moril dari segala perbuatannya, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani saja ( sebagai bekal kehidupannya) tetapi juga akhlak dan akalnya.
Sejalan dengan hal ini Islam adalah agama ilmu dan agama akal, karena itu islam selalu mendorong untuk mempergunakan akal dan menuntut pengetahuan, agar manusia dapat membedakan mana yang benar dan yang salah serta dapt menyelami hakikat alam.
Apabila kita perhatikan ayat-ayat yang pertam diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad, maka nyatalah bahwa Allah telah menekankan betapa perlunya orang belacar membaca dan menulis serta belajar ilmu pengetahuan, hal ini dapat kita baca dalam firman Allah surat Al-alaq ayat 1-5 yang artinya “ Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan # Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah # Bacalah dengan nama tuhanmu yang mha pemurah # yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam # Dia mengajarkan manusia ap-apa yang tidak diketahui # “. Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi umat yang pandai, dimulai dengan belajar membaca dan menulis yang kemudian diteruskan dengan belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Disamping menekankan belajar, islam juga menyuruh umatnya untuk mengajarkan ilmu kepada orang lain, jadi islam mawajibkan umatnya belajar dan mengajar, melakukan proses belajar dan mengajar adalah proses yang manusiawi, yakni sesuai dengan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Homo Educandus, dalam arti manusia itu sebagai makhluk yang dapat dididik dan dapat menddidik.( Zuhairini, 2004 : 99).